CakapCakap – Cakap People! Apa bedanya pertalite dan pertamax? Ramai dugaan kasus korupsi tata kelola minyak dan produk PT Pertamina subholding, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) periode 2018-2023. Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menahan 7 tersangka atas kasus yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp193,7 triliun.
Melansir dari CNN Indonesia, empat pekerja dari Pertamina dan tiga dari pihak swasta yang telah ditahan sebagai tersangka itu adalah Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan (RS), tersangka inisial SDS selaku Direktur Feed stock and Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional, tersangka inisial YF selaku Direktur Utama PT Pertamina International Shipping, dan AP selaku VP Feed stock Management PT Kilang Pertamina International. Dari pihak swasta adalah tersangka inisial MKAN selaku Beneficial Owner PT Navigator Khatulistiwa, DW selaku Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim, dan YRJ selaku Komisaris PT Jenggala Maritim sekaligus Dirut PT Orbit Terminal Mera.

Dugaan modus tindak pidana korupsi yang dikerahkan adalah penyelewengan spek minyak, yaitu dengan cara menurunkan produksi kilang sehingga produksi minyak bumi dalam negeri tidak terserap sepenuhnya dan diperlukan impor. Namun, tersangka diduga membeli minyak mentah Pertamax (RON 92) padahal yang dibeli adalah Pertalite (RON 90).
Sejak tersiarnya kasus dugaan korupsi tersebut, isu bensin oplosan Pertalite dan Pertamax di media sosial kembali naik. Sejumlah masyarakat juga menduga bensin Pertamax yang digunakan sejak tahun lalu justru menyebabkan kerusakan mesin kendaraan. Terkait hal ini, VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso membantah isu BBM oplosan tersebut kepada CNN Indonesia, hari Selasa 25 Februari 2025. “Bisa kita pastikan tidak ada yang dirugikan di aspek hilir atau di masyarakat, karena masyarakat kita pastikan mendapatkan yang sesuai dengan yang mereka beli”.
Perbedaan Pertamax dan Pertalite
Seperti diketahui bahwa Pertamax dan Pertalite sudah jelas berbeda. Masing-masing memiliki karakteristiknya dan pemakaiannya juga disesuaikan dengan mesin kendaraan.
Melansir dari situs My Pertamina, Pertamax adalah bahan bakar minyak yang punya angka oktan minimal 92 atau dikenal pula dengan Research Octane Number 92 (RON 92), mudah dikenali dengan warna biru-kehijauan. Angka oktan tinggi tersebut memungkinkan pembakaran lebih sempurna dan tidak meninggalkan residu. BBM yang diproduksi Pertamina ini juga punya kelebihan formula PERTATEC (Pertamina Technology), yakni formula zat aditif dengan kemampuan membersihkan endapan kotoran pada mesin sehingga mesin lebih awet, menjaga dari karat, dan penggunaan bahan bakar lebih efisien.
Pertalite memiliki angka oktan di bawah Pertamax, yaitu 90 (RON 90). Pertalite disediakan sebagai solusi perantara untuk konsumen yang menggunakan Premium dengan oktan 88. Dibandingkan Pertamax, harga Pertalite lebih terjangkau. Penggunaan Pertalite yang berwarna hijau terang dan jernih tersebut memungkinkan pembakaran lebih baik dibandingkan Premium, sehingga kendaraan dapat menempuh jarak lebih jauh.
Mengapa Pertamax dan Pertalite Tidak Boleh Dicampur?
Lantas dengan maraknya isu oplosan yang beredar, apakah BBM dengan angka oktan berbeda tersebut tidak boleh dicampurkan? Jawabannya dijelaskan oleh Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof Muhammad Nizam, kepada DetikOto, yaitu BBM dengan oktan berbeda sebaiknya tidak dicampurkan. Ya, termasuk Pertamax dan Pertalite.
Pemakaian jangka pendek mungkin belum terasa dampaknya. Namun jika terus-menerus dilakukan dalam jangka panjang, bisa menyebabkan gangguan pembakaran yang berimbas pada mesin.
“Untuk jangka pendek, kalau sesekali ya nggak masalah. Tapi kalau secara terus menerus, misalnya Pertamax dicampur Pertalite, mungkin akan berdampak negatif. Kalau saran saya sebaiknya jangan dicampur,” terangnya.
“Kalau orang awam kan menganggap RON 90 dicampur RON 92 jadinya RON di tengah-tengahnya. Padahal masing-masing itu kandungan berbeda, zat aditifnya berbeda. Itu yang perlu diteliti lagi, karena ketika zat kimia satu dengan lainnya dicampur bisa saja pembakarannya tidak sempurna, menyisakan korosi, dan sebagainya”.